Eni Lestari, Buruh Migrant Di Panggung Dunia

Artikel

Komentar

Pagi yang cerah di Hongkong, bersiap untuk salah satu pekerjaan di negara bekas kolonial Inggris. Dalam rutinitas, selalu saya sempatkan membaca koran sebelum berangkat, maupun ketika rehat. Informasi sangat penting buat saya. Selain memberikan pengetahuan informasi juga mengabarkan hal-hal yang penting.

Pagi itu, yang saya baca adalah Koran Sunday Morning salah satu koran group South China Morning Post, koran terbesar di Hongkong. Kalau di Indonesia mirip-mirip Group Jawa Pos, Kompas dan yang lainnya.

Koran edisi 18 September 2016 itu, tidak seperti biasanya. Di halaman pertama, ada berita dan foto warga Indonesia yang sejak tahun 2000 bekerja sebagai Migrant Workers di Hongkong. Dia adalah Eni Lestari.

Ini menjadi perhatian saya tentunya, karena saya sangat konsen dalam bidang TKI ini. Negara, pada jaman pemerintahan SBY waktu itu, menunjuk saya bergabung dalam Satgas Penyelamatan TKI bersama alamarhum mantan Menteri Agama Maftuh Basyuni sebagai ketua Satgas TKI.

Bahkan Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) yang saya pimpin waktu itu menjadi leader pengawalan hukum untuk TKI.

200-ribuan TKI berhasil di selamatkan dari masalah hukum di berbagai negara. Baik itu hukuman pancung yang paling berat, maupun masalah-masalah lainnya.

Saya mengetahui persis bagaimana TKI ini tidak mendapat perlindungan hukum yang memadai.

Kembali ke Eni Lestari, bukan karena berita TKI yang mendapat perhatian saya, tapi karena posisinya yang membanggakan sebagai chairwoman International Migrants Alliance di Hongkong.

Eni Lestari mendapatkan kesempatan langka dan sangat terhormat di undang dan berbicara di The United Nations Summit on Refugees and Migrants in New York.

Eni Lestari satu-satunya yang terpilih untuk berbicara di depan seluruh Kepala Negara yang hadir saat itu, termasuk Presiden Obama dari USA.

Perempuan asal Kediri, Jawa Timur ini dipilih berpidato setelah melalui seleksi yang ketat, dari 400 orang yang mengajukan diri, ia terpilih bersama delapan orang lainnya. Sesuatu yang membanggakan.

Eny Lestari hanya berbicara selama 3 menit di forum terhormat "The First Time The UN General Assembly Has Called For A Summit At The Heads of State and Goverment Level on large Movements of Refugees and Migrants", namun pesannya sangat kuat.

Libatkan Buruh Migrant

Eni menyatakan menjadi aktivis karena sebagai buruh migran ia merasa hak-haknya diekploitasi bahkan sebelum berangkat bekerja ke Hong Kong. Artinya di negara tempat kelahirannya sampai ke negara tujuan kerjanya.

Eni, berjuang mewakili nasib 244 juta buruh migrant tidak hanya di Indonesia tapi di dunia.

Eni Lestari menyerukan kepada pemimpin dunia tentang keterlibatan pekerja atau buruh migrant dalam pembuatan kebijakan

Di KTT PBB, Eni berharap akan berubah, setidaknya akan ada partisipasi lebih besar dari pekerja migran dalam pembuatan kebijakan, apakah itu regional, nasional atau kebijakan internasional.

Eni Lestari mengakui mereka masih jauh dari mencapai tujuan tersebut. Namun Eni mengingatkan kepada pemerintah untuk mengakui hak-hak buruh migran.

Jangan memperlakukan pekerja migran sebagai sumber keuntungan atau sebagai budak

Apa yang disampaikan Eni Lestari, memang itu inti persoalan selama ini kebijakan di setiap negara bahkan secara institusi global tidak pernah melibatkan migrant untuk untuk sebuah kebijakan yang mengutungkan dan melindungi buruh migrant. Mereka hanya komoditas atau user bukan subjek dari suatu regulasi.

Eni juga mendesak pemerintah RI untuk memperlakukan buruh migran selayaknya manusia, bukan hanya data atau angka apalagi hanya sebagai sumber devisa.

Kehadirannya Eni di sidang umum PBB tahun ini bisa membuka mata masyarakat dan mempertanyakan sistem di Indonesia yang menyebabkan perempuan-perempuan Indonesia tidak punya masa depan di negerinya sendiri.

Eni Lestari menohok pemerintah, Eni menyampaikan tampilnya di summit karena putus asa, karena bicara dengan pemerintah di level nasional, baik pemerintah negara asal maupun pemerintah negara tujuan, belum tentu mau mendengar.

Meskipun tidak berharap PBB bisa menyelesaikan masalah ekploitasi buruh migran, Eni yang telah menjadi aktivis selama 15 tahun ini mengaku akan terus melanjutkan perjuangannya.

Eny Lestari adalah pejuang sejati para TKI yang secara tulus dan nyata luput dari perhatian pemerintah. Eni Lestari menjadi contoh antagonis banyak pihak di Indonesia yang kita cintai ini yang bisa nya omdo dan ambil keuntungan untuk pribadi mereka.

Semoga adanya Eni di panggung dunia bisa membuka mata pemerintah terkait fakta perlindungan dan penghargaan terhadap buruh migrant ini.

Hongkong, Kamis 22 September 2016 Humphrey Djemat

 

Komentar

Tinggalkan Komentar