Sekilas Perjalanan Gani Djemat & Partner

Hukum

Komentar

Agustus 2002. Perjalanan 30 tahun kantor advokat Gani Djemat & Partner (GDP) ditandai dengan peluncuran buku semi otobiografi dari alm. Gani Djemat. Kiat-kiat maupun suka duka almarhum mulai dari mendirikan dan mengelola GDP, dituturkan oleh orang-orang yang kenal dekat dengan sosok beliau di buku tersebut.

Peluncuran semi otobiografi di Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta (21/8) ditandai dengan hadirnya segenap keluarga besar, kerabat, klien, maupun rekan seprofesi alm. Gani Djemat.

Dipilihnya bulan Agustus sebagai saat peluncuran buku tersebut karena tanggalnya bertepatan peringatan 30 tahun berdirinya kantor advokat Gani Djemat & Partner dan mengenang alm. Gani Djemat yang meninggal pada 22 Februari 2001 di usianya yang ke-69.

Dalam buku setebal 332 halaman tersebut, dikisahkan perjalanan hidup Gani Djemat, pengacara kelahiran Curup, Kepayan, Sumatera Selatan 18 Agustus 1932. Lahir dengan nama Abdul Gani dari pasangan Haji Djemat dan Nurdisah, Gani Djemat adalah putra pertama dari tujuh bersaudara. Ia menyelesaikan sekolah dasarnya dengan berpindah-pindah dari Curup ke Lampung. SMA-nya diselesaikan di SMA Mardiyuana Sukabumi.

Gani Djemat sempat berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1991. Namun karena di fakultas tersebut ia merasa tidak bisa kuliah sambil bekerja, pada 1952 Gani Djemat memutuskan untuk hijrah ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Takdir tampaknya memang kelihatannya mengarahkan Gani untuk menjadi pengacara handal. Namun, perjalanan karirnya untuk menjadi pengacara tidak berjalan mulus.

Wajib militer

Setelah menamatkan kuliahnya selama 4,5 tahun, Gani menjalani wajib militer sampai menjadi seorang oditur angkatan laut. Karirnya di militer lumayan bersinar, buktinya Gani sempat disekolahkan di Naval Justice School di New Port, Rhode Island untuk memperdalam pengetahuannya.

Bahkan, Gani sempat menjadi atase militer RI di Singapura selama beberapa tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari dunia militer. Gani pula lah yang merintis berdirinya Kedubes Indonesia di Singapura.

Sepak terjang Gani Djemat di dunia kepengacaraan dirintis pada tahun 1971, ketika ia mengundurkan diri dari atase militer di Singapura. Setelah mendapat dorongan dari sahabat-sahabat maupun keluarga dekatnya yang merasa Gani memiliki potensi untuk menjadi seorang pengacara, akhirnya pada 18 Agustus 1972, Gani Djemat memantapkan dirinya untuk mendirikan kantor advokat Gani Djemat & Partner (GDP).

Tidak pernah KKN

Awalnya ketika baru berdiri, GDP hanya memiliki 4 orang lawyer. Namun dalam perkembangannya, sampai saat ini tercatat kantor advokat yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol ini memiliki 42 lawyer. Banyak klien, dari dalam maupun luar negeri, telah merasakan servis yang diberikan oleh alm. Gani Djemat melalui kantor pengacaranya.

Tidak hanya itu, berbagai kasus-kasus yang menarik perhatian masyarakat juga ikut ditangani GDP. Mulai dari kasus Dewi Soekarno dengan Wisma Yaso-nya, kasus Sum Kuning, sampai dengan kasus Eddy Tansil dengan Golden Key Gup-nya yang sangat kontroversial.

Beberapa kerabat almarhum mengingat, bahwa Gani adalah sosok yang tidak pernah ber-KKN untuk memenangkan kasusnya. Hakim agung Benyamin Mangkoedilaga bercerita, bahwa meski berkawan baik dengan almarhum, ia tidak pernah membicarakan kasus yang sedang ditangani di luar sidang.

“Gani Djemat meskipun pernah saya kalahkan, namun beliau tidak pernah menanyakan apa kekurangan dari pembelaannya. Beliau tidak mau mencampuri pekerjaan masing-masing, meskipun sebagai teman kami sering bertemu di luar sidang,” ungkap Benyamin, yang pernah menjadi anggota Komnas HAM.

 

Suksesi di GDP

Roda kepemimpinan GDP saat ini dijalankan oleh Humphrey Djemat, putra sulung alm. Gani Djemat. Humphrey mulai menerima tongkat estafet kepemimpinan GDP mulai tahun 1999.

Ketika itu kondisi kesehatan Gani Djemat memang sudah semakin menurun akibat penyakit pada ginjalnya. Saat itu, Gani Djemat bukan hanya mundur dari pucuk pimpinan kantor advokatnya, melainkan juga dari seluruh aktifitasnya termasuk menjadi anggota Komnas HAM yang ia geluti sejak tahun 1993.

Humphrey menceritakan bahwa suksesi di GDP sampai akhirnya menunjuk dirinya sebagai suksesor bukanlah perkara yang mudah. Dalam buku semi otobiografi Gani Djemat ini, Humphrey menceritakan penggemblengan dirinya selama bertahun-tahun oleh almarhum.

Humprey menapak karirnya setapak demi setapak, tanpa ada perlakuan istimewa. Meskipun, ia anak tertua dari founders kantor tersebut. Di pundak Humhrey lah nama besar dari GDP, salah satu kantor advokat tertua di Indonesia kini dipertaruhkan.

Sumber: hukumonline.com, 26 Agustus 2002

Komentar

Tinggalkan Komentar