Makna Lahir Dan Batin Dalam Kehidupan Kita

Artikel

Komentar

Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran Surat An Nisa ayat 78:

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?

Kaum muslimin telah melewati masa Lebaran, setelah berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Salam Lebaran inilah masa saling bermaaf-maafan. Dalam bermaafan itu cenderung terucapkan ‘mohon maaf lahir dan bathin’. Tapi makna ‘maaf lahir dan bathin’ kini seolah hanya seliweran belaka. Padahal makna yang terkandung di dalamnya cukup mendalam.

Lahir dan bathin adalah unsur yang tersedia dalam setiap diri manusia. Dalam bahasa lain itulah jasad dan ruh. Jasad itulah lahir. Sementara ruh itulah bathin atau rohani. Kesenangan dan kebahagiaan antara lahir dan bathin ini saling berbeda. Selama berpuasa di bulan Ramadhan, kita diminta untuk tak makan dan minum. Ini dalam rangka membelenggu kesenangan lahir. Karena makan makanan enak, disitulah dianggap memenuhi kesenangan lahir. Ramadhan melatih diri untuk tak terbiasa memberikan kesenangan pada lahir semata. Tapi juga harus memikirkan kesenangan bathiniah. Makanan enak hanya sampai pada kesenangan lahir, tapi bukan memenuhi kesenangan bathin.

Di tengah kapitalisme ini tengah menggeliat, banyak manusia terobsesi pada memburu kesenangan lahir belaka. Tapi terkadang melupakan kesenangan bathiniah. Inilah pembeda antara kaum muslimin dan kuffar. Karena muslimin harus mampu meletakkan makna kebahagiaan itu dengan turut juga memberi makanan pada bathiniah. Makanan bathiniah itulah dzikrullah, berdzikir pada Allah Subhanahuwataala.

Arus kehidupan kini memang terkadang menjebak kita pada perburuan lahir, hingga melupakan makna pencarian kesenangan bathiniah. Padahal usia pada jasad atau bathin pasti ada batasnya. Itulah yang kita kenal dengan kematian. Inilah hal sudah pasti. Muslimin atau kafirun pasti mengalami hal ini. Inilah yang tak bisa dihindari siapa saja. Sekaya-kayanya Firaun tak mampu membeli ruh. Apalagi setingkat Buffet, Rockefeller, Rostchild, Mark Zuckerberg, atau pengusaha kelas kampung. Sebanyak apapun harta, tak ada yang bisa membeli ruh. Maka, tatkala ruh dicabut dari jasad, tiada yang bisa menolak. Itulah saat kematian datang. Suatu hal yang pasti, yang bakal melanda setiap yang hidup.

Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 185:

 “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS Ali Imran:185)

Antara ruh dan jasad, terselip pula nafs. Inilah sebagai batu uji buat manusia. Nafs ini, alat untuk memperdaya. Bagi seorang rijalallah (lelaki Allah), dialah pengendali nafs. Menolak tertipu daya oleh dunia. Tapi bagi yang diperbudak nafs, maka segala bentuk kesenangan jasad, pasti akan dikejarnya. Nafs ini yang membuat sang manusia berkata, “Aku lebih hebat dari dia” atau “Aku bisa lebih kaya dari dia,” aku pasti akan menjadi kaya,” aku ingin jadi terkenal, aku ingin hidup foya-foya. Ini semua demi kebahagiaan jasad yang berselimut nafs. Nafs inilah yang mendorong seseorang ingin tetap berkuasa dengan segala cara, walaupun harus mengingkari hukum yang berlaku. Seseorang yang tak mampu mengendalikan nafs-nya, cenderung menjadi budak syaitan yang berada di luar tubuh manusia untuk mempengaruhi kita agar melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah Subhanahuwataala.

Tak heran jika seseorang manusia berkuasa atau memimpin organisasi dengan nafs yang merajai, belum tentu menikmati kesenangan bathiniah dalam dirinua. Ruhnya menderita, walau hartanya berlimpah. Karena dia tak bisa duduk tenang atau tidur siang bolong laiknya tukang becak tidur di becaknya. Kesenangan rohani inilah rahasia mengapa Khalifah Umar Bin Khattab bisa enjoy tidur siang dibawah pohon kurma di siang bolong. Kuncinya: penjarakan nafs. Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam diutus untuk memberi tahu bagaimana metode agar nafs bisa terpenjara. Itulah muslimin. Tak terperdaya pada kesilauan duniawi yang menipu.

Tapi dalam kosakata kapitalisme, ini yang tiada. Karena disana cuma ada dua bentuk: miskin dan kaya. Miskin adalah aib, kaya berarti bahagia. Inilah yang membuat orang bikin sistem bagaimana agar kaya. Karena seolah kesenangan hanya pada harta berlimpah, popularitas nama, kekuasaan untuk mengendalikan lainnya. Inilah kemenangan. Padahal itu murni tipuan.

Rahasia kemenangan di dunia, adalah tatkala nafs terpenjara dan tak terkesima halusinasi kenikmatan jasad. Para sufi berkata, makan adalah kebutuhan rohani, sementara dzikir itu makanan buat jasmani. Ali bin Abi Thalib berkata, matilah sebelum mati (maut qabla tamut). Dan kematian itulah awal dari kehidupan. Tentu ini berbanding terbalik dengan doktrin sekarang. Karena banyak yang terkesima pada kenikmatan duniawi, sihir kenikmatan jasad, tanpa paham apa itu rohani.H

Tak heran, seorang jurnalis perempuan Inggris, beberapa kali berkunjung ke Palestina, Pakistan, mendapati kehidupan muslim perempuan dirumah sepetak, sederhana. Dia bertanya, “mengapa kamu sangat miskin?” tanya si jurnalis Inggris itu. Perempuan berhijab hitam itu menjawab, “Miskin? Siapa bilang aku miskin, aku ini sangat kaya karena aku memiliki Allah Subhanahuwataala,” ujarnya. Bertahun-tahun sang jurnalis itu terkesima pada jawaban perempuan muslim itu. Sampai kala Allah Subhanahuwataala memberikannya hidayah, dia tahu rahasia jawaban itu. Lima tahun berselang, jurnalis Inggris itu bershahadat, memeluk Islam. Dia ingin merasakan menjadi kaya, tatkala memiliki Allah Subhanahuwataala. Sejurus kemudian, dia baru merasakan kenikmatan hidup. Tak lagi minum alkohol, hidup berfoya, gila popularitas nama, dan tak terkesima pada sihir dunia. Karena dalam kehidupan ada hukum fitrah. Itulah sunatullah, rububiyah. Manusia pasti mencari Tuhannya. Tapi sesiapa yang lupa akan pencarian Tuhannya, bisa jadi dia terperdaya kesenangan jasad, yang kerap dibisikkan Syaitan. Karena di dunia ini, syaitan juga hadir sebagai pembisik busuk. Agar manusia terjerambab, menemani dirinya dikehidupan mendatang.

Dalam sekuel Film “Devil Advokat” menunjukkan bagaimana advokat berlimpah harta, kantor megah, ternyata dikomandani seorang Syaitan. Kini kehidupan dunia didominasi rezim budak nafs, yang terkesima kesenangan jasad. Ada kalanya dunia dikendalikan kelompok yang mengedepankan kesenangan rohani. Itulah kala Islam berjaya. Kala Islam mendominasi dunia. Saatnya kita kembali ke Islam. Bukan Islam yang harus mengikuti perkembangan jaman-karena jaman dikendalikan budak nafs. Bismillah.

*DR. Humphrey Djemat, SH, LLM

 

Komentar

Tinggalkan Komentar